Minggu, 28 April 2013

Makalah Politik Budaya Islam di Indonesia



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masalah yang paling mendasar di abad ini tentunya dapat kita sederhanakan bersama yakni mengenai politik. Terlepas dari masalah-masalah mengenai kebutuhan pokok sehari-hari, politik menjadi konsumsi utama manusia saat ini yang bukan hanya terjadi dalam masyarakat kita saja, bahkan ini telah menjadi suatu bahan dasar yang penting oleh seluruh dunia hari ini.
Ketika politik ini mulai kita kaitkan oleh kebudayaan, tentu disana-sini akan timbul banyak permasalahan-permasalahan yang mendasar. Terlebih hal ini akan dapat banyak mengalami permasalahan di karenakan sejarah bangsa kita yang sejak dari dulu hingga saat  ini masih banyak mengalami degradari terutama di kedua hal pokok yang akan menjadi pembahasan kita.
Namun, ada point yang sangat membuat penulis menjadi seolah ragu dalam upaya membahas masalah diatas. Hal ini di karenakan kesulitan penulis dalam mencapai derajat yang mempuni untuk mengkaji permasalahan politik dan budaya ketika hal ini telah di kaitkan dengan Islam. Bagaimana tidak? Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan yang seharusnya sangat matang oleh penulis.
Untuk itu, mari dengan segenap hati pembaca yang budiman untuk terus memperdalam kajian ini demi kesempurnaan pengalaman kita khususnya ilmu tentang budaya, politik dan islam dalam konteks perjalanan sejarahnya. Wallahu a`lam bisshowab

B.     Tujuan
            Sebagaimana latar belakang diatas, penulis berusaha menyederhanakan permasalahan menjadi beberapa bagian yang penting untuk mengkajinya dengan lebih komprehensif. Adapun permasalahan tersebut adalah :
1.      Apa itu politik, budaya, dan Islam dalam konteks sejarah?
2.      Bagaimana keterkaitan antara politik dan budaya islam di Indonesia?
3.      Apa hikmah mempelajari politik dan budaya islam?

C. Manfaat Penulisan
            Dengan selesainya tulisan ini, kami mengharapkan tentunya agar setiap pembaca mampu memahami setiap permasalahan yang di bahas di atas, dengan berusaha terus mengembangkan dengan berbagai macam literatur yang lebih beragam lagi.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Politik, Budaya dan Islam dalam Konteks Sejarah
Banyak versi pengertian politik secara termin, namun secara umum penulis mencoba mendefinisikan bahwa politik merupakan alat yang di pakai oleh pemegang kekuasaan dalam menjalankan suatu proses kepemimpinan dalam arti luas dan bagaimana seorang pemimpin itu secara sadar maupun tidak di ikuti sehingga apa yang menjadi tujuannya dapat tercapai.
Ini selaras dengan definisi yang di tuliskan oleh Robert, seorang pakar politik dalam sebuah literatur di media internet bahwasanya politik itu merupakan seni yang di pakai seseorang dalam mengurus dan mengatur masyarakat manusia.
Dari pengertian diatas, dapat di tarik suatu garis merah mengenai bagaimana politik itu sangat berpengaruh pada proses perkembangan suatu peradaban tertentu. Sehingga maju mundurnya suatu peradaban sangat di tentukan oleh bagaimana seorang pemegang kekuasaan menjalankan kekuasaannya.
Budaya, merupakan suatu proses kebiasaan yang sering dilakukan dan ini menjadi kebiasaan yang pada puncaknya nanti memiliki nilai kepercayaan yang cukup kuat sehingga di dalam masyarakat di jadikan suatu sistem kepercayaan yang mendasari tingkah laku manusia. Dalam sebuah blog, Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Dari sini pula, dapat di ketahui bahwa budaya tentu tidak dapat bersifat ekslusif sehingga tidak membutuhkan suatu penafsiran, melainkan budaya ini akan terus selalu berkembang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan umat manusia yang tentu pula kebutuhan dan perkembangan ini akan terus berkembang.
Islam, ketika kita berusaha melihat dalam konteks sejarahnya, secara umum terdiri dari berbagai peristiwa yang tercatat sejak pertama kali kehidupan ada di dunia ini sampai sekarang bahkan sampai hari kiamat nanti. Namun, disini penulis mencoba membatasinya dengan sekat pemisah yakni saat islam pertama kali masuk dalam wilayah tanah air. Hal ini akan sangat berkaitan dengan proses perubahan sosial budaya masyarakat yang tentu kaitan ini akan sangat di dominasi karena adanya pengaruh politik dalam arti pemegang kekuasaan pada saat itu.

B. Keterkaitan Antara Politik dan Budaya Islam di Indonesia
Sebelumnya telah di singgung bahwa suatu proses perubahan budaya akan sangat di tentukan oleh faktor pemegang politik pada saat itu. Tak ubahnya dalam budaya yang berkembang di Indonesia, budaya yang berkembang sejak zaman masuknya Islam di Indonesia hingga saat ini sangatlah jauh berbeda. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia yang tadinya merupakan suatu komunitas bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang di pimpin oleh seorang kepala suku berubah menjadi suatu bentuk kebangsaan yang terdiri dari berbagai macam komunitas monarki. Sampai saat ini, dengan perkembangan yang sedemikian rupa, bangsa ini telah menjadi suatu negara yang merdeka dan bersatu dalam suatu ikatan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan semboyannya yakni bhineka tunggal ika (berbeda-beda tapi tetap satu) terhitung sejak Ir.Soekarno memproklamirkan kemerdekaan 17 Agustus 1945 silam.
Hal ini dapatlah terlihat bahwa suatu proses perkembangan politik dari suatu bangsa menimbulkan perbedaan yang amat signifikan yang tentunya ini terjadi melalui siapa orang dan dalam bentuk bagaimana ia menjalankan kekuasaannya.
Dari wacana diatas, kita mulai mengkaji mengenai bagaimana siklus relasi yang menghubungkan politik dengan suatu budaya islam khususnya di Indonesia. Islam yang tentunya mengajarkan suatu nilai kebersamaan yakni berjamaah, menunjukkan suatu ideologi baru yang lahir di zaman itu saat Indonesia masih terdiri dari berbagai macam suku untuk mulai mempersatukan diri dalam suatu wadah kerajaan yang akhirnya menjadi suatu bentuk kenegaraan.

C. Hikmah Mempelajari Politik dan Budaya Islam
Tentunya sebagai agama yang mencakup semua aspek kehidupan, islam tidaklah melupakan atau meninggalkan permasalahan politik, yang dikenal dengan istilah “siyasah”.
Jika dikatakan saasal waliy ar ro’iyah berarti pemimpin itu memerintahkan, melarang dan mengendalikan rakyatnya. Karena itu menurut terminologi bahasa siyasah menunjukkan arti mengatur, memperbaiki dan mendidik.
Sedangkan menurut etimologi, siyasah (politik) memiliki makna yang berkaitan dengan negara dan kekuasaan. Disebutkan bahwa ia adalah upaya memperbaiki rakyat dengan mengarahkan mereka kepada jalan selamat di kehidupan dunia maupun akherat serta mengatur urusan-urusan mereka. Al Bujairumiy mengatakan bahwa politik adalah memperbaiki urusan-urusan rakyat dan mengatur perkara-perkara mereka.
Politik dengan makna seperti ini merupakan dasar hukum, karena itu tindakan-tindakan para penguasa negara yang terkait dengan kekuasaan disebut dengan politik. . Ilmu politik adalah ilmu yang mengetahui tentang macam-macam kekuasaan, perpolitikan sosial dan sipil, keadaan-keadaannya : seperti keadaan para penguasa, raja-raja, pemimpin, hakim, ulama, ekonom, penanggung jawab baitul mal dan yang lainnya. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 8963)
Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan bahwa islam bukanlah melulu aqidah teologis atau syiar-syiar peribadatan, ia bukan semata-mata agama yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, yang tidak bersangkut paut dengan pengaturan hidup dan pengarahan tata kemasyarakatan dan negara.
Tidak, tidak demikian…islam adalah akidah dan ibadah, akhlak dan syariat yang lengkap. Dengan kata lain, islam merupakan tatanan yang sempurna bagi kehidupan individu, urusan keluarga, tata kemasyarakatan, prinsip pemerintahan dan hubungan internasional.
Bahkan bagian ibadah dalam fiqih itu pun tidak lepas dari politik… Islam memiliki kaidah-kaidah, hukum-hukum dan pengarahan-pengarahan dalam politik pendidikan, politik informasi, politik perundang-undangan, politik hukum, politik kehartabendaan, politik perdamaian, politik peperangan dan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kehidupan. Maka tidak bisa diterima kalau islam dianggap nihil dan pasif bahkan menjadi pelayan bagi filsafat atau ideologi lain. Islam tidak mau kecuali menjadi tuan, panglima, komandan, diikuti dan dilayani. (Fatwa-fatwa Kontemporer jlid 2 hal 897 – 898)
Ibnul Qoyyim mengutip perkataan Imam Abul Wafa’ ibnu ‘Aqil al Hambali bahwa politik merupakan tindakan atau perbuatan yang dengannya seseorang lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, selama politik tersebut tidak bertentangan dengan syara’.
Islam adalah agama yang mengikat segala sesuatunya dengan aturan agama, begitupula didalam urusan politik ini. Islam tidak mengenal adanya penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan, meskipun tujuan itu mulia. Islam tidak hanya melihat hasil tetapi juga proses untuk mendapatkan hasil.
Oleh karena itu didalam berpolitik pun seorang politisi maupun pemimpin islam diharuskan berpegang dengan rambu-rambu syariah dan akhlak mulia. Dengan kata lain bahwa segala cara berpolitik yang bertentangan dengan syariah atau melanggar norma-norma agama dan akhlak islam maka ia dilarang.
Dari sini, penulis kembali mengingat tentang bagaimana politik itu akan sangat mempengaruhi suatu proses perkembangan budaya. Dalam sebuah artikel di media internet, dikutip syair dari seorang ulama terkemuka di zamannya yakni Hasan Al-Banna. Beliau mengatakan bahwa "Kebangkitan suatu bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan. Sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan yang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi, di balik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan, dan ketenangan dalam melangkah telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan." (Hasan Al-Banna; Risalah Ila Ayyu Syain Nad u An-Naas.)
Suatu budaya bangsa akan sangat tergantung dari kuat lemahnya politik yang berkembang sehingga dengan mempelajari berbagai kaitan hubungan permasalahan yang kita bahas ini, akan dapat memberikan kita pengetahuan tentang bagaimana politik dan budaya yang ini terjadi bukanlah karena sesuatu hal yang lain tetapi islam lah yang tampil sebagai pemecah ideologi politik yang lemah menjadi suatu ideologi politik yang kuat dan berkarakter yang tentu ini menjadi cita-cita dan impian kita bersama.





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat kita ambil beberapa kesimpulan dari poin-poin pokoknya secara singkat. Hubungan Politik dan Budaya Islam khususnya di indonesia. Namun di sini dapat lebih di sederhanakan menjadi suatu kesimpulan umum bahwasanya :
1.      Kemajuan peradaban dalam budaya sangatlah menjadi erat kaitannya dengan politik yang tumbuh dan berkembang baik dalam lingkup masyarakat maupun kebangsaan.
2.      Bahwa Islamlah yang ternyata mempolitisasi, sehingga timbul ideologi bersama bangsa indonesia yang tadinya terdiri dari berbagai macam warna suku menjadi suatu bentuk kesatuan yang utuh dalam konteks kenegaraan.
3.      Bahwa dengan mempelajari hal ini akan membuat kita mampu untuk bertindak sebaik mungkin untuk memajukan budaya politik yang kuat dan berkarakter sehingga menjadi suatu faktor pendorong utama proses perubahan kemajuan budaya yang tentu harus sesuai dengan nilai-nilai perkembangan yang ada dalam islam.

B. Saran
            Tentu tulisan kali ini akan menjadi sangat termentahkan dalam dunia pendidikan dan intelektualitas kelompok-kelompok akademisi ketika tidak menjadi bahan yang membuat kita berusaha untuk terus mengkajinya dalam lingkup politik dan budaya islam di Indonesia. Sehingga besar harapan penulis agar nantinya perbincangan mengenai hal ini akan terus ada hingga saat diman dunia telah mewujudkan cita-cita politik kita bersama.


DAFTAR PUSTAKA

2 komentar: