PELURUSAN
MOTIVASI, GAPAI PRIBADI KADER SPESIALIS DAN GENERALIS
Upaya Persiapan Insan Leadership
(
Oleh : Muhammad Dias Saktiawan )
Sebagian besar
kegagalan, itu di sebabkan oleh kekurangan kita dalam menata sebuah visi. Baik
itu visi dalam lingkup pribadi maupun komunal. Hal inilah yang acap kali dapat
kita jadikan tugas rumah untuk kembali menatanya dalam konsep yang lebih
sederhana agar dalam memenuhi tuntutan akan visi yang tercipta dapat lebih
maksimal. Pertanyaan mengenai hal ini sekali lagi dapat tersorot dalam sebuah buku fenomenal karangan
Anis Matta dan Ary Ginanjar Agustian yakni bertanya kepada diri kita sendiri,
“Apa sebenarnya yang kuinginkan?”1.
atau bisa juga dengan kita mereka-reka masa depan yang kita inginkan dalam
khayalan bahkan dalam mimpi.
Kemampuan seseorang
dalam menata sebuah visi, akan terbuktikan dengan seberapa besar semangat yang
menjadi motivasi dalam usaha mewujudkan visi itu. Hal inilah yang menjadi
penting, karena apabila kita keliru dalam menata visi, maka barang tentu hasil
yang akan kita dapatkan nantinya tidak akan maksimal. Bahkan, bisa jadi karena
kekeliruan dalam menentukan visi kedepan, hal fatal akan menggeluti kita di
masa depan.
Namun, sebelum kita
menata hal tersebut, marilah kita mulai bertanya kepada diri kita sendiri,
apakah yang selama ini kita usahakan itu berada dalam kebenaran? Apakah hal yang menjadi cita-cita kita
akhirnya akan di ridhoi Allah? Atau bahkan kita tidak memiliki cita-cita yang
jelas dan mungkin pula kita tidak mengerti mengenai apa yang sedang kita kerjakan!
Mari kita renungkan hal ini.
Hal yang kemudian menjadi
penting, akan sangat ironis ketika kita telah melakukan usaha perenungan yang
mendalam mengenai hal di atas, tetapi kita sama sekali tidak mengenal siapa diri
kita, hakikat adanya kita di dunia ini, kedudukan kita sebagai manusia, serta
status sosial kita di masyarakat. Untuk itu, sekali lagi mari jadikan hal-hal
di atas sebagai bahan renungan kita yang tentu dengan sesegera mungkin harus kita
sadari.
Selanjutnya, hal yang
akan menjadi sorotan utama dalam tulisan kali ini ialah mengenai status sosial
kita di masyarakat, yang tentu status yang sedang terukir dalam sejarah kita
hari ini adalah sebagai mahasiswa.
Mahasiswa merupakan
status yang menjadi impian setiap orang yang sedang menempuh pendidikan, bahkan
setiap orang yang tidak mungkin berstatus mahasiswa pun mengimpikan dirinya
menjadi seorang mahasiswa lagi. Terlepas apakah ia seorang pengusaha, pejabat,
bahkan orang-orang yang telah memenuhi ukuran mapan pun menginginkan status
pelajar teratas ini. Bagaimana tidak, di masa inilah setiap orang secara real
bebas menentukan pilihan, bebas mengeluarkan argumen, bebas menyusun peta
kehidupan yang akan ia jalani nantinya, serta banyak hal yang di miliki
mahasiswa yang membuat semua orang menginginkan status ini.
Namun
kenyataan hari ini, banyak sekali kelompok-kelompok mahasiswa yang tidak
mengerti mengenai status yang sedang di jalaninya. Banyak hal di sana-sini yang
kita dapat jadikan barometer dalam mengukur hal tersebut. Seperti misalnya ejekan
sebagai mahasiswa kupu-kupu (Kuliah pulang-kuliah pulang), kutu buku
(diidentikkan bagi mahasiswa yang banyak menghabiskan waktunya dengan membaca).
Padahal, kalau saja kita mau sedikit kembali melihat kebelakang di zaman-zaman
keemasan peradaban Islam, kelompok terpelajar yang hari ini sering kita sebut
sebagai kelompok intelektual, menempati posisi yang teramat mulia. Dimana
setiap orang yang berhasil dalam kemahirannya di bidang ilmu pengetahuan
tertentu, mendapatkan fasilitas yang teramat mulia seperti hasil karya tulisan
berupa buku yang dapat di jadikan patokan berpijak dalam berkehidupan saat itu
di bayar lunas dengan timbangan emas yang setara dengan berat buku hasil
karyanya tersebut. Inilah yang mungkin kita dapat jadikan salah satu contoh
kemuliaan orang-orang berilmu saat itu.
Akan
tetapi, tidak cukup sampai disitu. Kita yang hari ini memikul amanah sebagai
mahasiswa, dituntut agar mampu menjadi seorang yang memiliki integritas penuh
baik di bidang ilmu pengetahuan yang secara khusus kita geluti maupun
pengalaman-pengalaman yang nantinya dapat kita jumpai ketika kita mau sibuk dalam hal-hal yang sifatnya
ekstrakulikuler. Salah satu contoh konkrit yang dapat kami contohkan yaitu
dengan ikut serta berperan aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Inilah yang
dikatakan sebagai mahasiswa spesialis dan generalis.
Spesialis
yang berarti memiliki tingkat kemahiran yang mempuni sesuai dengan spesifikasi
ilmu pengetahuan yang menjadi fokusnya dan begitu pula mahasiswa generalis,
memiliki kelebihan yang mempuni pula dalam aspek-aspek keterampilan yang
menjadi kelebihannya di bandingkan kelompok mahasiswa kebanyakan yang tentunya
hanya dapat di temukan di luar bangku perkuliahan.
Usaha
dan upaya inilah yang sebenarnya akan kita temukan dalam jangka waktu yang
relatif sudah begitu dekat. Tinggal tergantung apakah kita yang menyongsong moment itu ataukah kita yang akan
menantikannya sampai hal itu datang dengan sendirinya kepada kita secara tidak
di sengaja atau bahkan kita tidak menyadari ternyata hal itu sudah sedang kita
jalani hari ini.
Demi
mewujudkan tugas besar itu, sudah tentu usaha dan upaya yang di lakukan tidak
semudah kita membalikkan telapak tangan. Tetapi butuh kesadaran yang amat
bijaksana untuk menyikapinya. Berangkat dari kesadaran inilah, maka kita seharusnya
selalu berupaya menigkatkan kualitas kita terlebih lagi dikarenakan era yang sedang
kita hadapi hari ini menuntut kita untuk mampu berkompeten yang tidak hanya
dari satu aspek saja melainkan bagaimana kita mampu untuk menyikapi berbagai
macam problem di masyarakat yang tentunya disanalah laboratorium terbesar
sebagai lahan penerapan setiap usaha yang kita lakukan.
Selain
itu pula, upaya konkrit yang dapat kita lakukan sebagai awal untuk memenuhi
tuntutan itu yakni dengan mencoba membudayakan tradisi membaca (read), diskusi (discuss), dan menulis (write).
Inilah sebuah upaya yang kami katakan memiliki hierarki possision yang hari ini menjadi visi kami ke depan.
Keyakinan
kami dan tentu menjadi keyakinan kita semua, bahwa kita yang hari ini menjadi
mahasiswa tentu merupakan calon penerus tongkat estafet kepemimpinan terlebih
pada tanggung jawab kita sebagai pemimpin Islam. Untuk itu marilah dengan
segala usaha dan upaya yang maksimal kita persiapkan demi menjaga tanggung
jawab yang telah di amanahkan kepada kita dengan senantiasa meningkatkan
kualitas diri pribadi yang sekali lagi tentunya hanya akan kita dapatkan ketika
kita mau di sibukkan dengan berbagai macam aktifitas baik itu dalam lingkup
perkuliahan maupun lingkup organisasi.
“tak
ada usaha yang tak membutuhkan pengorbanan dan
tak ada pengorbanan yang sia-sia”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar