Kamis, 14 Maret 2013

Diskusi Interaktif Bersama Dekan Fakultas Hukum UNISSULA



PELURUSAN MOTIVASI, GAPAI PRIBADI KADER SPESIALIS DAN GENERALIS
Upaya Persiapan Insan Leadership
( Oleh : Muhammad Dias Saktiawan )

Sebagian besar kegagalan, itu di sebabkan oleh kekurangan kita dalam menata sebuah visi. Baik itu visi dalam lingkup pribadi maupun komunal. Hal inilah yang acap kali dapat kita jadikan tugas rumah untuk kembali menatanya dalam konsep yang lebih sederhana agar dalam memenuhi tuntutan akan visi yang tercipta dapat lebih maksimal. Pertanyaan mengenai hal ini sekali lagi dapat  tersorot dalam sebuah buku fenomenal karangan Anis Matta dan Ary Ginanjar Agustian yakni bertanya kepada diri kita sendiri, “Apa sebenarnya yang kuinginkan?”1. atau bisa juga dengan kita mereka-reka masa depan yang kita inginkan dalam khayalan bahkan dalam mimpi.
Kemampuan seseorang dalam menata sebuah visi, akan terbuktikan dengan seberapa besar semangat yang menjadi motivasi dalam usaha mewujudkan visi itu. Hal inilah yang menjadi penting, karena apabila kita keliru dalam menata visi, maka barang tentu hasil yang akan kita dapatkan nantinya tidak akan maksimal. Bahkan, bisa jadi karena kekeliruan dalam menentukan visi kedepan, hal fatal akan menggeluti kita di masa depan.
Namun, sebelum kita menata hal tersebut, marilah kita mulai bertanya kepada diri kita sendiri, apakah yang selama ini kita usahakan itu berada dalam kebenaran?  Apakah hal yang menjadi cita-cita kita akhirnya akan di ridhoi Allah? Atau bahkan kita tidak memiliki cita-cita yang jelas dan mungkin pula kita tidak mengerti mengenai apa yang sedang kita kerjakan! Mari kita renungkan hal ini.
Hal yang kemudian menjadi penting, akan sangat ironis ketika kita telah melakukan usaha perenungan yang mendalam mengenai hal di atas, tetapi kita sama sekali tidak mengenal siapa diri kita, hakikat adanya kita di dunia ini, kedudukan kita sebagai manusia, serta status sosial kita di masyarakat. Untuk itu, sekali lagi mari jadikan hal-hal di atas sebagai bahan renungan kita yang tentu dengan sesegera mungkin harus kita sadari.
Selanjutnya, hal yang akan menjadi sorotan utama dalam tulisan kali ini ialah mengenai status sosial kita di masyarakat, yang tentu status yang sedang terukir dalam sejarah kita hari ini adalah sebagai mahasiswa.
Mahasiswa merupakan status yang menjadi impian setiap orang yang sedang menempuh pendidikan, bahkan setiap orang yang tidak mungkin berstatus mahasiswa pun mengimpikan dirinya menjadi seorang mahasiswa lagi. Terlepas apakah ia seorang pengusaha, pejabat, bahkan orang-orang yang telah memenuhi ukuran mapan pun menginginkan status pelajar teratas ini. Bagaimana tidak, di masa inilah setiap orang secara real bebas menentukan pilihan, bebas mengeluarkan argumen, bebas menyusun peta kehidupan yang akan ia jalani nantinya, serta banyak hal yang di miliki mahasiswa yang membuat semua orang menginginkan status ini.
            Namun kenyataan hari ini, banyak sekali kelompok-kelompok mahasiswa yang tidak mengerti mengenai status yang sedang di jalaninya. Banyak hal di sana-sini yang kita dapat jadikan barometer dalam mengukur hal tersebut. Seperti misalnya ejekan sebagai mahasiswa kupu-kupu (Kuliah pulang-kuliah pulang), kutu buku (diidentikkan bagi mahasiswa yang banyak menghabiskan waktunya dengan membaca). Padahal, kalau saja kita mau sedikit kembali melihat kebelakang di zaman-zaman keemasan peradaban Islam, kelompok terpelajar yang hari ini sering kita sebut sebagai kelompok intelektual, menempati posisi yang teramat mulia. Dimana setiap orang yang berhasil dalam kemahirannya di bidang ilmu pengetahuan tertentu, mendapatkan fasilitas yang teramat mulia seperti hasil karya tulisan berupa buku yang dapat di jadikan patokan berpijak dalam berkehidupan saat itu di bayar lunas dengan timbangan emas yang setara dengan berat buku hasil karyanya tersebut. Inilah yang mungkin kita dapat jadikan salah satu contoh kemuliaan orang-orang berilmu saat itu.
            Akan tetapi, tidak cukup sampai disitu. Kita yang hari ini memikul amanah sebagai mahasiswa, dituntut agar mampu menjadi seorang yang memiliki integritas penuh baik di bidang ilmu pengetahuan yang secara khusus kita geluti maupun pengalaman-pengalaman yang nantinya dapat kita jumpai ketika kita mau sibuk dalam hal-hal yang sifatnya ekstrakulikuler. Salah satu contoh konkrit yang dapat kami contohkan yaitu dengan ikut serta berperan aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Inilah yang dikatakan sebagai mahasiswa spesialis dan generalis.
            Spesialis yang berarti memiliki tingkat kemahiran yang mempuni sesuai dengan spesifikasi ilmu pengetahuan yang menjadi fokusnya dan begitu pula mahasiswa generalis, memiliki kelebihan yang mempuni pula dalam aspek-aspek keterampilan yang menjadi kelebihannya di bandingkan kelompok mahasiswa kebanyakan yang tentunya hanya dapat di temukan di luar bangku perkuliahan.
            Usaha dan upaya inilah yang sebenarnya akan kita temukan dalam jangka waktu yang relatif sudah begitu dekat. Tinggal tergantung apakah kita yang menyongsong moment itu ataukah kita yang akan menantikannya sampai hal itu datang dengan sendirinya kepada kita secara tidak di sengaja atau bahkan kita tidak menyadari ternyata hal itu sudah sedang kita jalani hari ini.
            Demi mewujudkan tugas besar itu, sudah tentu usaha dan upaya yang di lakukan tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Tetapi butuh kesadaran yang amat bijaksana untuk menyikapinya. Berangkat dari kesadaran inilah, maka kita seharusnya selalu berupaya menigkatkan kualitas kita terlebih lagi dikarenakan era yang sedang kita hadapi hari ini menuntut kita untuk mampu berkompeten yang tidak hanya dari satu aspek saja melainkan bagaimana kita mampu untuk menyikapi berbagai macam problem di masyarakat yang tentunya disanalah laboratorium terbesar sebagai lahan penerapan setiap usaha yang kita lakukan.
            Selain itu pula, upaya konkrit yang dapat kita lakukan sebagai awal untuk memenuhi tuntutan itu yakni dengan mencoba membudayakan tradisi membaca (read), diskusi (discuss), dan menulis (write). Inilah sebuah upaya yang kami katakan memiliki hierarki possision yang hari ini menjadi visi kami ke depan.
            Keyakinan kami dan tentu menjadi keyakinan kita semua, bahwa kita yang hari ini menjadi mahasiswa tentu merupakan calon penerus tongkat estafet kepemimpinan terlebih pada tanggung jawab kita sebagai pemimpin Islam. Untuk itu marilah dengan segala usaha dan upaya yang maksimal kita persiapkan demi menjaga tanggung jawab yang telah di amanahkan kepada kita dengan senantiasa meningkatkan kualitas diri pribadi yang sekali lagi tentunya hanya akan kita dapatkan ketika kita mau di sibukkan dengan berbagai macam aktifitas baik itu dalam lingkup perkuliahan maupun lingkup organisasi.






“tak ada usaha yang tak membutuhkan pengorbanan dan 
tak ada pengorbanan yang sia-sia”


1 Lihat “Mencipta manusia paripurna” karangan Anis Mata dan Ary Ginanjar Agustian, hal 11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar